Kita mengetahui, bahwa sepanjang sejarah kehiduan manusia itu selalu ada konflik, baik itu konflik-konflik terbuka antar manusia, maupun konflik batin dalam diri sendiri. Biasanya keduanya bisa diselesaikan oleh individu sendiri, tanpa ikut campurnya campur tangan orang lain juga tanpa menimbulkan akses gangguan jiwa. Akan tetapi, adakalanya persaingan dan konflik-konflik itu berlangsung sangat tidak sehat dan secara terus-menerus, sehingga sangat kronis dan mengganggu ketegangan jiwa, kemudian menyebabkan timbulnya kekalutan mental yang terpendam dan tertutup, sifatnya sangat serius dan membahayakan kesehatan jiwa penderitanya.
Kekalutan jiwa ini yang menampilkan diri dalam bentuk autistis, dipenuhi rasa panic dan gambaran bahaya yang khayali, . Pasien lalu menghayalkan satu dunia social imajiner yang indah, sesuai dengan angan-angannya. Sedangkan didunia luar tampak semakin gelap manakutkan bagi dirinya, rasanya seperti mau menerkam dan menghancurkan dirinya. Maka sebagai kompensasi dari perasaan takut dan curiga timbullah agresi yang meledak-ledak atau tingkah laku lainnya yang sangat berbahaya bagi orang lain dan
Dirinya sendiri.
DEVENISI GANGGUAN MENTAL
Mental discorder adalah bentuk gangguan dan kekacauan fungsi mental (kesehatan mental), disebabkan oleh kegagalan mereaksinya mekanisme adaptasi dari fungsi-fungsi kejiwaan/mental terhadap stimuli ekstrnal dan ketegangan-ketgangan, sehingga muncul gangguan fungsi atau kegagalan stuktur pada satu bagian satu organ, atau system kejiwaan.
Gangguan mental merupakan totalitas kesatuan dari ekspresi mental yang patologis terhadp stimulun social, dikombinasikan dengan fakor-faktor penyebab sekunder lainnya.
SEBAB-SEBAB GANGGUAN MENTAL
Sebab sebab terjadinya gangguan mental adalah:
v Prediposisi struktur biologis/jasmani dan mental atau kepribadian yang lemah.
v Konflik-konflik social dan konflik-konflik cultural yang mempengaruhi diri manusia
v Pemasakan batin (internalisasi) dari pengalaman yang keliru yaitu pencernaan pengalaman diri si subjek yang salah.
Sebab-sebab semakin meningkatnya jumlah penderita kekalutan mental
Ada beberapa teori yang menyatakan sebab-sebab semakin banyaknya kasus disorder mental yaitu
v Teori kompleksitas social menyatakan bahwa didalam masyarakat modern sebagai produk dari pesatnya proses urbanisasi dan industralisasi, orang sulit mengadakan adaptasi terhadap masyarakat yang serba otomatis, terpecah-pecah, selalu berubah dan serba serabutan.
v Teori konflik cultural dan teori disosial-sosial menerangkan. Bahwa masyarakat modern merupakan satu high tension culture penuh unsur ketegangan, persaingan dan kinflik-konflik terbuka atau tersembunyi.
v Teori imitasi menyatakan, bahwa banyak tingkah laku penyimpangan/deviatif, neoratis dan psikis primer itu diperoleh dan dipelajari secara langsung atau tidak langsung dari orang tua sendiri.
BENTUK BENTUK GANGGUAN MENTAL
Dewasa ini masyarakat Indonesia mengalami perubahan social yang sangat cepat. Demikian cepatnya sehingga banyak orang yang tidak bisa mengikuti. Akibatnya timbullah ketegangan karena kejutan yang dialami. Adapun gangguan dapat dibagi dalam;
a. Psikose
Psikose merupakan gangguan kejiwaan (kelainan kepribadian) yang meliputi keseluruhan kepribadian (emosi,berpikir, dan sebagainya) seseorang sehingga orang yang menderita tidak bisa lagi menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku dalam masyarakat.
Secara teoritis psikose terbagi dua golongan besar, yakni psikose fungsional dan psikose organic. Psikose fungsional timbul disebabkan oleh aspek kejiwaan, sedang aspek organic disebabkan kelainan pada aspek ketubuhan.
Sebab-sebab psikose fungsional:
v Konstitusi pembawaan mental dn jasmani yang herediter, diwarisi dari orang tua atau di generasi sebelumnya yang psikotis.
v Kebiasaan-kebiasaan mental yang buruk sejak masa kanak-kanak.
Psikose fungsional dapat kita bedakan dalam
1. Skizofren yaitu kepribadian yang terpecah yang bergejala:
Logika tidak berfungsi, sehingga pembicaraan berlompat-lompat, sering mengeluarkan kata-kata aneh yang hanya dia yang mengerti
Ucapan, perbuatan pikiran tidak sejalan sehingga yang bersangkutan dapat menceritakan hal yang sedih sambil tertawa.
Timbul delusi waham, sebagai akibat pikiran yang berorientasi pada khayalan.
Seklussif yaitu minat dan kontak social sempit, berada dalam elienation
Timbul halusinasi, sehingga sering terjadi kesalahan persepsi dalam arti mendengar, melihat, merasa sesuatu yang tidak ada.
Disamping tanda umum diatas, masih terdapat gejala khusus
Skozofren simplex, dimana penderita masih mampu melihat realitas, tetapi bila diperhatikan memang terdapat keanehan tingkah laku.
Skizofren hebepherenic, yang memperlihatkan gejala kemunduran ke tingkat yang lebih rendah, antara lain menangis seperi anak kecil.
Skizofren paranoid memperlihatkan gejala kecurigaan yang berlebihan, merasa dirinya diancam dibunuh, diracuni, berada dalam situasi stupor.
Skizofen katatonic memperlihatkan motorik yang tidak terkontrol
2. Psikose manic depressive (psikose efektif)
Pada penyakit ini terdapat perasaan euphoris (rasa gembira yang berlebihan), perasaan optimis yang berlebihan, jalan pikiran cepat tak salah, tak mengenal lelah, semua persoalan enteng baginya. Pada suatu saat euphoris tadi (elation, mania) berubah jadi sedih ( depresi, melancholia) yang dalam, duduk bermuram durja.
3. Paranoid
Penyakit ini ditandai oleh adanya kecurigaan yang tidak beralasan yang terus-menerus yang pada puncaknya dapat menjadi tingkah laku agresif. Disini wahamnya sangat menggangu sehingga sering merasakan ada ancaman membunuh dirinya lalu mengasah pisau. Hanya pada penderita ini masih terdapat emosi dan pikiran berjalan baik serta berhubungan. Jalan pikiran masih cukup sistematis, logika teratur tetapi salah seleweng dari kenyataan.
b. Psikoneurosis
Psikoneurosis adalah gangguan yang terjadi hanya pada sebagian kepribadian. Karena gangguan hanya pada sebagian kepribadian, maka yang bersangkutan masih bisa melakukan pekerjaan/aktivitas sehai-hari. Sebenarnya psikoneurosis bukanah suatu penyakit, yang bersangkutan masih dapat kita sebut normal. Yang diderita yang bersangkutan adalah ketegangan pribadi yang terus sebagai akibat konflik yang berkepanjangan. Orang tersebut tidak dapat mengatasi konflik yang tidak kunjung reda yang pada taraf terakhir menjadi neurosis. Ada kalanya penyakit ini baru timbul setelah lama penyebabnya terjadi atau sama sekali tidak ingat lagi, atau telah diendapkan dalam alam ketidaksadaran. Untuk menyembuhkan penyakit digunakan tehnik wawancara yang lazim disebut psikoterapi. Melihat gejalanya maka secara teoritis penyakit ini dapat dibedakan atas:
1. Psikotenis
Gejala penyakit ini ialah kelesuan mental, phobia, takut berdiri di tempat yang tinggi, takut akan tempat yang sempit, takut mati. Selain phobia timbul obsesi (meningkatnya suatu ide yang sulit dilupakan) yang disertai compulsion (kecenderungan untuk melakukan sesuatau tanpa dapat dicegah). Seseorang yang mempunyai obsesi selalu mencuci tangannya karena selalu merasa penuh kuman. Dengan mencuci tangan dia merasa puas, sedang bila dia tidak mencuci tangan dia akan penuh kegelisahan. Salah satu jenis compulsion ialah cleptomani ( kecenderungan mencuri)
Sebab-sebab psikotenis
v Represi tarhadap pengalaman-pengalaman traumatis yang sangat menakutkan pada masa silam.
v Disertai rasa malu atau berdosa, yang kemudian ditekan kuat-kuat dalam ketidaksadaran, dalam usahanya untuk melupakan insiden tersebut, sehingga muncul gejala phobia, obsesi, dan kompulsif.
v Ada konflik antar untuk berani melawan rasa taku-takut yang mengerut, yang dicobanya menekan kuat-kuat dalam alam tidak sadar.
2. Neurastania
Penyakit ini ditandai oleh kelelahan yang terus menerus, wajah murung, nafsu makan berkurang, sulit tidur (insomania).
v Risau disebabkan oleh kekurangan kerja/kesibukan. Kelelahan dan kelemahan yang ekstrem disebabkan oleh kebanyakan kerja.
v Banyak menderita ketegangan emosional karena konflik-konflik internal, kesusahan, dan frustasi-frustasi.
v Disebabkan oleh perasaan interior, akibat dari kegagalan-kegagalan di masa lampau dan disusuli dengan tingkah laku yang agresif.
v Factor-faktor herediter diperkirakan juga menjadi sebabnya, akn tetapi tidak teramat penting artinya.
3. Anxiety
Terdapat kecemasan yang berkelanjutan bercampur perasaan takut.
Sebab-sebab anxiety
v Ketakuatn dan kecemasan yang terus menerus, disebabkan oleh kesusahan-kesusahan dan kegagalan yang bertubu-tubi
v Repressi terhadap maca-macam masalah emosional, akan tetapi tidak bisa berlangsung secara sempurna
v Kecenderungan harga diri yang terhalang.
v Dorongan-dorongan seksual tidak mendapat kepuasan yang terhambat, sehingga menimbulkn banyak konflik batin.
4. Hysteria
Penderita secara tidak sadar meniadakan fungsi salah satu anggota tubuhnya sekalipun secara organis tidak diketemukan adanya kelainan. Orang menjadi lumpuh, buta, tuli.
Sebab-sebab hysteria:
v Ada prediposisi pembawaan berupa system syaraf yang lemah.
v Tekanan-tekanan mental yang disebabkan oleh, kesusahan, kekecawaan, shocks, dan pengalaman-pengalamn taraumatis/luka jiwa.nya sugesti diri yag buruk dan melemahkan mental.
v Oleh kelemahan-kelemahan diri, individu berusaha menguasai keadaan, lalu mentiranisasi lingkungan dengan tingkah lakunya yang dibuat-buat.
v Kebiasaan hidup dan disiplin-disiplin yang keliru, sehingga mengakibatkan control pribadi yang lemah dan integrasi kepribadian yang miskin, sangat kekanak-kanakan.
v Sering atau selalu menggunakan escape mechanism dan defence mechanism, sehingga mengakibatkan malajustment, dan semakin banyak timbul kesulitan.
v Kondidi fisik yang buruk, misalnya sakit-sakitan, lemah, lelah, fungsi-fungsi organic yang lemah, gangguan pikiran, dan badaniah.
5. Hipokondria
Adalah kondisi kecemasan yang kronis, dimana pasien selalu merasakan ketakutan yang patologis terhadap terhadap kesehatan sendiri..individu yang bersangkutan merasa yakin betul bahwa dirinya mengidap suatu penyakit yang kronis. Setiap simpton kesakitan yang sekecil-kecilnya, dirasakannya sebagai suatu bencana hebat dan merupakan tragedy hidup yang dianggap bisa menyebabkan kematiannya. Semua itu disebabkan oleh banyaknya konflik-konflik intrapsikis yang sudah lama dan amat parah.
c. Psikopat
Psikopat adalah bentuk kekalutan mental ditandai dengan tidak adanya pengorganisasian dan pengintegrasian pribadi. Penderita memperlihatkan tingkah laku yang anti social, tidak memperdulikan norma yang ada dalam masyarakat. Gejala lain yang ditampilkan yang bersangkutan ialah egosentri, tidak mempunyai hati nurani. Dalam bentuk yang ekstrim penderita menjadi penipu ulung, pembunuh ulung.
Pada galibnya, orang-orang psikopat itu pada masa mudanya mendapatkan kasih sayang yang sangat minim sekali, bahkan hampir-hampir sama sekali tidak mendapatkan kasih sayang dari lingkungannya. Selama lima tahun pertama dia tidak pernah mendapatkan kemesraan-kemesraan kasih, sehingga untuk selama-lamanya individu yang bersangkutan kehilangan atau tidak mampu mengembngkan kemampuan untuk menerima dan memberikan kaih sayang dan simpati. Maka untuk selama-lamnya, sampai usia dewasa dan tua, dia kehilangan social, dan hilang pula rasa kemanusiaannnya. Perasaannya selalu tidak puas dan tdak senang. Jiwanya senantiasa diliputi rasa kebencian, dendam curiga, penolakan, pola dikejar-kejar dan dituduh.
Ciri-cirinya antara lain sebagai berikut:
v Tingkah laku dan relasi sosialnya selalu asosial, eksentrik (kegila-gilaan) dan kronis patologis. Sangat individualistic dan selalu menentang lingkungan cultural serta norma-norma etis, bertingkah semau sendiri.
v Sikapnya aneh-aneh, sering berbuat kasar, kurang ajar dan ganas, berbuat ganas terhadap siapapun tanpa suatu sebab. Sering sadistis.
v Suka ngeloyor atau keman-mana tanpa tujuan.
v Ada disorientasi tarhadap lingkungannya.
v Pribadinya tidak stabil. Respinnya selalu tidak adekuat. Dirinya tidak bisa dipercaya.
v Tidak pernah bersikap loyal terhadap orang lain, kelompok atau kode-kode etik tertentu.
v Emosinya tidak matang kadang tidak berperasaan
v Sering kali dicirikan dengan penyimpangan seksualitas dalam bentuk homoseksualitas, transvestitisme yaitu nafsu yang patologis untuk memakai pakaian dari jenis kelamin yang berlwanan dengannya, dan mendapatka kepuasan seks dengan pedofilia ( melakukan coitos/senggama dengan anak-anak kecil), fitishisme ( pemuasan seks dengan memanipulasikan satu benda sebagai pengganti kekasih), sadisme, serangan dan pemerkosaan seksual, pembunuhan dan perusakan jasad orang lain dengan motif-motif seks.
Ahli membagi jenis penyakit ini atas:
v Penderita yang memperlihatka tingkah laku yang simpatik tetapi tidak bertanggung jawab. Tingkah laku ini digunakan untuk menipu orang lain.
v Bersikap memusuhi, membandel, pendeknya sikap negativisme.
v Hipokondris, berbuat sakit-sakitan, tidak berdaya, hanya sekear untuk menarik perhatian. Dengan bersikap dmikian maka sekelilingnya telah dirugikan waktu.
v Bersikap anti social dimana penderita sering melakukan kejahatan seks, membunuh tanpa rasa satu kesalahan fatal.
Penderita kekalutan mental ini banyak terjadi di kalangan
Dikota-kot besar lebih banyak terdapat penderita mental disorder dari di desa-desa
Jumlah penderita kekalutan mental paling banyak terdapat di kalangan orang-orang dewasa atau usia tua.
Simpton psikotis banyak terdapat di kalangan anak remaja, puber dan adolesens, serta orng-orang pad usia klimakterium.
Dikalangan dinas militer
Orang-orang dengan status ekonomi rendh dan mata pencaharian sangat minim, namun mempunyai tuntutan dan ambisi materiil yang tinggi.
Di kalangan para gelandangan dan migran dari desa-desa ke kota-kota yang tidak bias mneyesuaikan diri terhadap tuntutan social yang baru.
Ibu-ibu rumah tangga lebih banyak yang mengalami psikosomatisme daripada pria.
Kadaan rumah tangga yang berantakan
Diperkirakan lebih kurang 40% dari orang-orang yang tidak beragama menderita kekalutan mental.
Juga orang-oran yang super-ekstrem dan sangat ortodoks serta fanatic terhadap doktrin-doktrin agama dan ide-ide politik, tanpa penggunaan nalar sehat dan pengendalian perasaan, banyak sekali yang menderita kekalutan mental.
Gangguan mental oleh factor-faktor social dan cultural yang eksternal sifatnya itu bisa dihindari, yaitu dengan jalan sebagai berikut
v Tidak banyak konflik-konflik batin yang serius, tidak banyak konflik dengan lingkungan
v Menegakkan disiplin-disiplin yang ketat.
v Berusaha berpikir dan bertindak wajar, tanpa penggunaan mekanisme pelarian diri dan mekanisme pertahanan diri yang negative
v Berani menghadapi kesulitan dengan nyata, dan mau memecahkan kesulitan-kesulitan dengan perbuatan konkret; tidak ada penghindaran diri dari kesulitan yang tengah dihadapi.
Sabtu, 10 Mei 2008
gangguan mental
Kita mengetahui, bahwa sepanjang sejarah kehiduan manusia itu selalu ada konflik, baik itu konflik-konflik terbuka antar manusia, maupun konflik batin dalam diri sendiri. Biasanya keduanya bisa diselesaikan oleh individu sendiri, tanpa ikut campurnya campur tangan orang lain juga tanpa menimbulkan akses gangguan jiwa. Akan tetapi, adakalanya persaingan dan konflik-konflik itu berlangsung sangat tidak sehat dan secara terus-menerus, sehingga sangat kronis dan mengganggu ketegangan jiwa, kemudian menyebabkan timbulnya kekalutan mental yang terpendam dan tertutup, sifatnya sangat serius dan membahayakan kesehatan jiwa penderitanya.
Kekalutan jiwa ini yang menampilkan diri dalam bentuk autistis, dipenuhi rasa panic dan gambaran bahaya yang khayali, . Pasien lalu menghayalkan satu dunia social imajiner yang indah, sesuai dengan angan-angannya. Sedangkan didunia luar tampak semakin gelap manakutkan bagi dirinya, rasanya seperti mau menerkam dan menghancurkan dirinya. Maka sebagai kompensasi dari perasaan takut dan curiga timbullah agresi yang meledak-ledak atau tingkah laku lainnya yang sangat berbahaya bagi orang lain dan
Dirinya sendiri.
DEVENISI GANGGUAN MENTAL
Mental discorder adalah bentuk gangguan dan kekacauan fungsi mental (kesehatan mental), disebabkan oleh kegagalan mereaksinya mekanisme adaptasi dari fungsi-fungsi kejiwaan/mental terhadap stimuli ekstrnal dan ketegangan-ketgangan, sehingga muncul gangguan fungsi atau kegagalan stuktur pada satu bagian satu organ, atau system kejiwaan.
Gangguan mental merupakan totalitas kesatuan dari ekspresi mental yang patologis terhadp stimulun social, dikombinasikan dengan fakor-faktor penyebab sekunder lainnya.
SEBAB-SEBAB GANGGUAN MENTAL
Sebab sebab terjadinya gangguan mental adalah:
v Prediposisi struktur biologis/jasmani dan mental atau kepribadian yang lemah.
v Konflik-konflik social dan konflik-konflik cultural yang mempengaruhi diri manusia
v Pemasakan batin (internalisasi) dari pengalaman yang keliru yaitu pencernaan pengalaman diri si subjek yang salah.
Sebab-sebab semakin meningkatnya jumlah penderita kekalutan mental
Ada beberapa teori yang menyatakan sebab-sebab semakin banyaknya kasus disorder mental yaitu
v Teori kompleksitas social menyatakan bahwa didalam masyarakat modern sebagai produk dari pesatnya proses urbanisasi dan industralisasi, orang sulit mengadakan adaptasi terhadap masyarakat yang serba otomatis, terpecah-pecah, selalu berubah dan serba serabutan.
v Teori konflik cultural dan teori disosial-sosial menerangkan. Bahwa masyarakat modern merupakan satu high tension culture penuh unsur ketegangan, persaingan dan kinflik-konflik terbuka atau tersembunyi.
v Teori imitasi menyatakan, bahwa banyak tingkah laku penyimpangan/deviatif, neoratis dan psikis primer itu diperoleh dan dipelajari secara langsung atau tidak langsung dari orang tua sendiri.
BENTUK BENTUK GANGGUAN MENTAL
Dewasa ini masyarakat Indonesia mengalami perubahan social yang sangat cepat. Demikian cepatnya sehingga banyak orang yang tidak bisa mengikuti. Akibatnya timbullah ketegangan karena kejutan yang dialami. Adapun gangguan dapat dibagi dalam;
a. Psikose
Psikose merupakan gangguan kejiwaan (kelainan kepribadian) yang meliputi keseluruhan kepribadian (emosi,berpikir, dan sebagainya) seseorang sehingga orang yang menderita tidak bisa lagi menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku dalam masyarakat.
Secara teoritis psikose terbagi dua golongan besar, yakni psikose fungsional dan psikose organic. Psikose fungsional timbul disebabkan oleh aspek kejiwaan, sedang aspek organic disebabkan kelainan pada aspek ketubuhan.
Sebab-sebab psikose fungsional:
v Konstitusi pembawaan mental dn jasmani yang herediter, diwarisi dari orang tua atau di generasi sebelumnya yang psikotis.
v Kebiasaan-kebiasaan mental yang buruk sejak masa kanak-kanak.
Psikose fungsional dapat kita bedakan dalam
1. Skizofren yaitu kepribadian yang terpecah yang bergejala:
Logika tidak berfungsi, sehingga pembicaraan berlompat-lompat, sering mengeluarkan kata-kata aneh yang hanya dia yang mengerti
Ucapan, perbuatan pikiran tidak sejalan sehingga yang bersangkutan dapat menceritakan hal yang sedih sambil tertawa.
Timbul delusi waham, sebagai akibat pikiran yang berorientasi pada khayalan.
Seklussif yaitu minat dan kontak social sempit, berada dalam elienation
Timbul halusinasi, sehingga sering terjadi kesalahan persepsi dalam arti mendengar, melihat, merasa sesuatu yang tidak ada.
Disamping tanda umum diatas, masih terdapat gejala khusus
Skozofren simplex, dimana penderita masih mampu melihat realitas, tetapi bila diperhatikan memang terdapat keanehan tingkah laku.
Skizofren hebepherenic, yang memperlihatkan gejala kemunduran ke tingkat yang lebih rendah, antara lain menangis seperi anak kecil.
Skizofren paranoid memperlihatkan gejala kecurigaan yang berlebihan, merasa dirinya diancam dibunuh, diracuni, berada dalam situasi stupor.
Skizofen katatonic memperlihatkan motorik yang tidak terkontrol
2. Psikose manic depressive (psikose efektif)
Pada penyakit ini terdapat perasaan euphoris (rasa gembira yang berlebihan), perasaan optimis yang berlebihan, jalan pikiran cepat tak salah, tak mengenal lelah, semua persoalan enteng baginya. Pada suatu saat euphoris tadi (elation, mania) berubah jadi sedih ( depresi, melancholia) yang dalam, duduk bermuram durja.
3. Paranoid
Penyakit ini ditandai oleh adanya kecurigaan yang tidak beralasan yang terus-menerus yang pada puncaknya dapat menjadi tingkah laku agresif. Disini wahamnya sangat menggangu sehingga sering merasakan ada ancaman membunuh dirinya lalu mengasah pisau. Hanya pada penderita ini masih terdapat emosi dan pikiran berjalan baik serta berhubungan. Jalan pikiran masih cukup sistematis, logika teratur tetapi salah seleweng dari kenyataan.
b. Psikoneurosis
Psikoneurosis adalah gangguan yang terjadi hanya pada sebagian kepribadian. Karena gangguan hanya pada sebagian kepribadian, maka yang bersangkutan masih bisa melakukan pekerjaan/aktivitas sehai-hari. Sebenarnya psikoneurosis bukanah suatu penyakit, yang bersangkutan masih dapat kita sebut normal. Yang diderita yang bersangkutan adalah ketegangan pribadi yang terus sebagai akibat konflik yang berkepanjangan. Orang tersebut tidak dapat mengatasi konflik yang tidak kunjung reda yang pada taraf terakhir menjadi neurosis. Ada kalanya penyakit ini baru timbul setelah lama penyebabnya terjadi atau sama sekali tidak ingat lagi, atau telah diendapkan dalam alam ketidaksadaran. Untuk menyembuhkan penyakit digunakan tehnik wawancara yang lazim disebut psikoterapi. Melihat gejalanya maka secara teoritis penyakit ini dapat dibedakan atas:
1. Psikotenis
Gejala penyakit ini ialah kelesuan mental, phobia, takut berdiri di tempat yang tinggi, takut akan tempat yang sempit, takut mati. Selain phobia timbul obsesi (meningkatnya suatu ide yang sulit dilupakan) yang disertai compulsion (kecenderungan untuk melakukan sesuatau tanpa dapat dicegah). Seseorang yang mempunyai obsesi selalu mencuci tangannya karena selalu merasa penuh kuman. Dengan mencuci tangan dia merasa puas, sedang bila dia tidak mencuci tangan dia akan penuh kegelisahan. Salah satu jenis compulsion ialah cleptomani ( kecenderungan mencuri)
Sebab-sebab psikotenis
v Represi tarhadap pengalaman-pengalaman traumatis yang sangat menakutkan pada masa silam.
v Disertai rasa malu atau berdosa, yang kemudian ditekan kuat-kuat dalam ketidaksadaran, dalam usahanya untuk melupakan insiden tersebut, sehingga muncul gejala phobia, obsesi, dan kompulsif.
v Ada konflik antar untuk berani melawan rasa taku-takut yang mengerut, yang dicobanya menekan kuat-kuat dalam alam tidak sadar.
2. Neurastania
Penyakit ini ditandai oleh kelelahan yang terus menerus, wajah murung, nafsu makan berkurang, sulit tidur (insomania).
v Risau disebabkan oleh kekurangan kerja/kesibukan. Kelelahan dan kelemahan yang ekstrem disebabkan oleh kebanyakan kerja.
v Banyak menderita ketegangan emosional karena konflik-konflik internal, kesusahan, dan frustasi-frustasi.
v Disebabkan oleh perasaan interior, akibat dari kegagalan-kegagalan di masa lampau dan disusuli dengan tingkah laku yang agresif.
v Factor-faktor herediter diperkirakan juga menjadi sebabnya, akn tetapi tidak teramat penting artinya.
3. Anxiety
Terdapat kecemasan yang berkelanjutan bercampur perasaan takut.
Sebab-sebab anxiety
v Ketakuatn dan kecemasan yang terus menerus, disebabkan oleh kesusahan-kesusahan dan kegagalan yang bertubu-tubi
v Repressi terhadap maca-macam masalah emosional, akan tetapi tidak bisa berlangsung secara sempurna
v Kecenderungan harga diri yang terhalang.
v Dorongan-dorongan seksual tidak mendapat kepuasan yang terhambat, sehingga menimbulkn banyak konflik batin.
4. Hysteria
Penderita secara tidak sadar meniadakan fungsi salah satu anggota tubuhnya sekalipun secara organis tidak diketemukan adanya kelainan. Orang menjadi lumpuh, buta, tuli.
Sebab-sebab hysteria:
v Ada prediposisi pembawaan berupa system syaraf yang lemah.
v Tekanan-tekanan mental yang disebabkan oleh, kesusahan, kekecawaan, shocks, dan pengalaman-pengalamn taraumatis/luka jiwa.nya sugesti diri yag buruk dan melemahkan mental.
v Oleh kelemahan-kelemahan diri, individu berusaha menguasai keadaan, lalu mentiranisasi lingkungan dengan tingkah lakunya yang dibuat-buat.
v Kebiasaan hidup dan disiplin-disiplin yang keliru, sehingga mengakibatkan control pribadi yang lemah dan integrasi kepribadian yang miskin, sangat kekanak-kanakan.
v Sering atau selalu menggunakan escape mechanism dan defence mechanism, sehingga mengakibatkan malajustment, dan semakin banyak timbul kesulitan.
v Kondidi fisik yang buruk, misalnya sakit-sakitan, lemah, lelah, fungsi-fungsi organic yang lemah, gangguan pikiran, dan badaniah.
5. Hipokondria
Adalah kondisi kecemasan yang kronis, dimana pasien selalu merasakan ketakutan yang patologis terhadap terhadap kesehatan sendiri..individu yang bersangkutan merasa yakin betul bahwa dirinya mengidap suatu penyakit yang kronis. Setiap simpton kesakitan yang sekecil-kecilnya, dirasakannya sebagai suatu bencana hebat dan merupakan tragedy hidup yang dianggap bisa menyebabkan kematiannya. Semua itu disebabkan oleh banyaknya konflik-konflik intrapsikis yang sudah lama dan amat parah.
c. Psikopat
Psikopat adalah bentuk kekalutan mental ditandai dengan tidak adanya pengorganisasian dan pengintegrasian pribadi. Penderita memperlihatkan tingkah laku yang anti social, tidak memperdulikan norma yang ada dalam masyarakat. Gejala lain yang ditampilkan yang bersangkutan ialah egosentri, tidak mempunyai hati nurani. Dalam bentuk yang ekstrim penderita menjadi penipu ulung, pembunuh ulung.
Pada galibnya, orang-orang psikopat itu pada masa mudanya mendapatkan kasih sayang yang sangat minim sekali, bahkan hampir-hampir sama sekali tidak mendapatkan kasih sayang dari lingkungannya. Selama lima tahun pertama dia tidak pernah mendapatkan kemesraan-kemesraan kasih, sehingga untuk selama-lamanya individu yang bersangkutan kehilangan atau tidak mampu mengembngkan kemampuan untuk menerima dan memberikan kaih sayang dan simpati. Maka untuk selama-lamnya, sampai usia dewasa dan tua, dia kehilangan social, dan hilang pula rasa kemanusiaannnya. Perasaannya selalu tidak puas dan tdak senang. Jiwanya senantiasa diliputi rasa kebencian, dendam curiga, penolakan, pola dikejar-kejar dan dituduh.
Ciri-cirinya antara lain sebagai berikut:
v Tingkah laku dan relasi sosialnya selalu asosial, eksentrik (kegila-gilaan) dan kronis patologis. Sangat individualistic dan selalu menentang lingkungan cultural serta norma-norma etis, bertingkah semau sendiri.
v Sikapnya aneh-aneh, sering berbuat kasar, kurang ajar dan ganas, berbuat ganas terhadap siapapun tanpa suatu sebab. Sering sadistis.
v Suka ngeloyor atau keman-mana tanpa tujuan.
v Ada disorientasi tarhadap lingkungannya.
v Pribadinya tidak stabil. Respinnya selalu tidak adekuat. Dirinya tidak bisa dipercaya.
v Tidak pernah bersikap loyal terhadap orang lain, kelompok atau kode-kode etik tertentu.
v Emosinya tidak matang kadang tidak berperasaan
v Sering kali dicirikan dengan penyimpangan seksualitas dalam bentuk homoseksualitas, transvestitisme yaitu nafsu yang patologis untuk memakai pakaian dari jenis kelamin yang berlwanan dengannya, dan mendapatka kepuasan seks dengan pedofilia ( melakukan coitos/senggama dengan anak-anak kecil), fitishisme ( pemuasan seks dengan memanipulasikan satu benda sebagai pengganti kekasih), sadisme, serangan dan pemerkosaan seksual, pembunuhan dan perusakan jasad orang lain dengan motif-motif seks.
Ahli membagi jenis penyakit ini atas:
v Penderita yang memperlihatka tingkah laku yang simpatik tetapi tidak bertanggung jawab. Tingkah laku ini digunakan untuk menipu orang lain.
v Bersikap memusuhi, membandel, pendeknya sikap negativisme.
v Hipokondris, berbuat sakit-sakitan, tidak berdaya, hanya sekear untuk menarik perhatian. Dengan bersikap dmikian maka sekelilingnya telah dirugikan waktu.
v Bersikap anti social dimana penderita sering melakukan kejahatan seks, membunuh tanpa rasa satu kesalahan fatal.
Penderita kekalutan mental ini banyak terjadi di kalangan
Dikota-kot besar lebih banyak terdapat penderita mental disorder dari di desa-desa
Jumlah penderita kekalutan mental paling banyak terdapat di kalangan orang-orang dewasa atau usia tua.
Simpton psikotis banyak terdapat di kalangan anak remaja, puber dan adolesens, serta orng-orang pad usia klimakterium.
Dikalangan dinas militer
Orang-orang dengan status ekonomi rendh dan mata pencaharian sangat minim, namun mempunyai tuntutan dan ambisi materiil yang tinggi.
Di kalangan para gelandangan dan migran dari desa-desa ke kota-kota yang tidak bias mneyesuaikan diri terhadap tuntutan social yang baru.
Ibu-ibu rumah tangga lebih banyak yang mengalami psikosomatisme daripada pria.
Kadaan rumah tangga yang berantakan
Diperkirakan lebih kurang 40% dari orang-orang yang tidak beragama menderita kekalutan mental.
Juga orang-oran yang super-ekstrem dan sangat ortodoks serta fanatic terhadap doktrin-doktrin agama dan ide-ide politik, tanpa penggunaan nalar sehat dan pengendalian perasaan, banyak sekali yang menderita kekalutan mental.
Gangguan mental oleh factor-faktor social dan cultural yang eksternal sifatnya itu bisa dihindari, yaitu dengan jalan sebagai berikut
v Tidak banyak konflik-konflik batin yang serius, tidak banyak konflik dengan lingkungan
v Menegakkan disiplin-disiplin yang ketat.
v Berusaha berpikir dan bertindak wajar, tanpa penggunaan mekanisme pelarian diri dan mekanisme pertahanan diri yang negative
v Berani menghadapi kesulitan dengan nyata, dan mau memecahkan kesulitan-kesulitan dengan perbuatan konkret; tidak ada penghindaran diri dari kesulitan yang tengah dihadapi.
Kekalutan jiwa ini yang menampilkan diri dalam bentuk autistis, dipenuhi rasa panic dan gambaran bahaya yang khayali, . Pasien lalu menghayalkan satu dunia social imajiner yang indah, sesuai dengan angan-angannya. Sedangkan didunia luar tampak semakin gelap manakutkan bagi dirinya, rasanya seperti mau menerkam dan menghancurkan dirinya. Maka sebagai kompensasi dari perasaan takut dan curiga timbullah agresi yang meledak-ledak atau tingkah laku lainnya yang sangat berbahaya bagi orang lain dan
Dirinya sendiri.
DEVENISI GANGGUAN MENTAL
Mental discorder adalah bentuk gangguan dan kekacauan fungsi mental (kesehatan mental), disebabkan oleh kegagalan mereaksinya mekanisme adaptasi dari fungsi-fungsi kejiwaan/mental terhadap stimuli ekstrnal dan ketegangan-ketgangan, sehingga muncul gangguan fungsi atau kegagalan stuktur pada satu bagian satu organ, atau system kejiwaan.
Gangguan mental merupakan totalitas kesatuan dari ekspresi mental yang patologis terhadp stimulun social, dikombinasikan dengan fakor-faktor penyebab sekunder lainnya.
SEBAB-SEBAB GANGGUAN MENTAL
Sebab sebab terjadinya gangguan mental adalah:
v Prediposisi struktur biologis/jasmani dan mental atau kepribadian yang lemah.
v Konflik-konflik social dan konflik-konflik cultural yang mempengaruhi diri manusia
v Pemasakan batin (internalisasi) dari pengalaman yang keliru yaitu pencernaan pengalaman diri si subjek yang salah.
Sebab-sebab semakin meningkatnya jumlah penderita kekalutan mental
Ada beberapa teori yang menyatakan sebab-sebab semakin banyaknya kasus disorder mental yaitu
v Teori kompleksitas social menyatakan bahwa didalam masyarakat modern sebagai produk dari pesatnya proses urbanisasi dan industralisasi, orang sulit mengadakan adaptasi terhadap masyarakat yang serba otomatis, terpecah-pecah, selalu berubah dan serba serabutan.
v Teori konflik cultural dan teori disosial-sosial menerangkan. Bahwa masyarakat modern merupakan satu high tension culture penuh unsur ketegangan, persaingan dan kinflik-konflik terbuka atau tersembunyi.
v Teori imitasi menyatakan, bahwa banyak tingkah laku penyimpangan/deviatif, neoratis dan psikis primer itu diperoleh dan dipelajari secara langsung atau tidak langsung dari orang tua sendiri.
BENTUK BENTUK GANGGUAN MENTAL
Dewasa ini masyarakat Indonesia mengalami perubahan social yang sangat cepat. Demikian cepatnya sehingga banyak orang yang tidak bisa mengikuti. Akibatnya timbullah ketegangan karena kejutan yang dialami. Adapun gangguan dapat dibagi dalam;
a. Psikose
Psikose merupakan gangguan kejiwaan (kelainan kepribadian) yang meliputi keseluruhan kepribadian (emosi,berpikir, dan sebagainya) seseorang sehingga orang yang menderita tidak bisa lagi menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku dalam masyarakat.
Secara teoritis psikose terbagi dua golongan besar, yakni psikose fungsional dan psikose organic. Psikose fungsional timbul disebabkan oleh aspek kejiwaan, sedang aspek organic disebabkan kelainan pada aspek ketubuhan.
Sebab-sebab psikose fungsional:
v Konstitusi pembawaan mental dn jasmani yang herediter, diwarisi dari orang tua atau di generasi sebelumnya yang psikotis.
v Kebiasaan-kebiasaan mental yang buruk sejak masa kanak-kanak.
Psikose fungsional dapat kita bedakan dalam
1. Skizofren yaitu kepribadian yang terpecah yang bergejala:
Logika tidak berfungsi, sehingga pembicaraan berlompat-lompat, sering mengeluarkan kata-kata aneh yang hanya dia yang mengerti
Ucapan, perbuatan pikiran tidak sejalan sehingga yang bersangkutan dapat menceritakan hal yang sedih sambil tertawa.
Timbul delusi waham, sebagai akibat pikiran yang berorientasi pada khayalan.
Seklussif yaitu minat dan kontak social sempit, berada dalam elienation
Timbul halusinasi, sehingga sering terjadi kesalahan persepsi dalam arti mendengar, melihat, merasa sesuatu yang tidak ada.
Disamping tanda umum diatas, masih terdapat gejala khusus
Skozofren simplex, dimana penderita masih mampu melihat realitas, tetapi bila diperhatikan memang terdapat keanehan tingkah laku.
Skizofren hebepherenic, yang memperlihatkan gejala kemunduran ke tingkat yang lebih rendah, antara lain menangis seperi anak kecil.
Skizofren paranoid memperlihatkan gejala kecurigaan yang berlebihan, merasa dirinya diancam dibunuh, diracuni, berada dalam situasi stupor.
Skizofen katatonic memperlihatkan motorik yang tidak terkontrol
2. Psikose manic depressive (psikose efektif)
Pada penyakit ini terdapat perasaan euphoris (rasa gembira yang berlebihan), perasaan optimis yang berlebihan, jalan pikiran cepat tak salah, tak mengenal lelah, semua persoalan enteng baginya. Pada suatu saat euphoris tadi (elation, mania) berubah jadi sedih ( depresi, melancholia) yang dalam, duduk bermuram durja.
3. Paranoid
Penyakit ini ditandai oleh adanya kecurigaan yang tidak beralasan yang terus-menerus yang pada puncaknya dapat menjadi tingkah laku agresif. Disini wahamnya sangat menggangu sehingga sering merasakan ada ancaman membunuh dirinya lalu mengasah pisau. Hanya pada penderita ini masih terdapat emosi dan pikiran berjalan baik serta berhubungan. Jalan pikiran masih cukup sistematis, logika teratur tetapi salah seleweng dari kenyataan.
b. Psikoneurosis
Psikoneurosis adalah gangguan yang terjadi hanya pada sebagian kepribadian. Karena gangguan hanya pada sebagian kepribadian, maka yang bersangkutan masih bisa melakukan pekerjaan/aktivitas sehai-hari. Sebenarnya psikoneurosis bukanah suatu penyakit, yang bersangkutan masih dapat kita sebut normal. Yang diderita yang bersangkutan adalah ketegangan pribadi yang terus sebagai akibat konflik yang berkepanjangan. Orang tersebut tidak dapat mengatasi konflik yang tidak kunjung reda yang pada taraf terakhir menjadi neurosis. Ada kalanya penyakit ini baru timbul setelah lama penyebabnya terjadi atau sama sekali tidak ingat lagi, atau telah diendapkan dalam alam ketidaksadaran. Untuk menyembuhkan penyakit digunakan tehnik wawancara yang lazim disebut psikoterapi. Melihat gejalanya maka secara teoritis penyakit ini dapat dibedakan atas:
1. Psikotenis
Gejala penyakit ini ialah kelesuan mental, phobia, takut berdiri di tempat yang tinggi, takut akan tempat yang sempit, takut mati. Selain phobia timbul obsesi (meningkatnya suatu ide yang sulit dilupakan) yang disertai compulsion (kecenderungan untuk melakukan sesuatau tanpa dapat dicegah). Seseorang yang mempunyai obsesi selalu mencuci tangannya karena selalu merasa penuh kuman. Dengan mencuci tangan dia merasa puas, sedang bila dia tidak mencuci tangan dia akan penuh kegelisahan. Salah satu jenis compulsion ialah cleptomani ( kecenderungan mencuri)
Sebab-sebab psikotenis
v Represi tarhadap pengalaman-pengalaman traumatis yang sangat menakutkan pada masa silam.
v Disertai rasa malu atau berdosa, yang kemudian ditekan kuat-kuat dalam ketidaksadaran, dalam usahanya untuk melupakan insiden tersebut, sehingga muncul gejala phobia, obsesi, dan kompulsif.
v Ada konflik antar untuk berani melawan rasa taku-takut yang mengerut, yang dicobanya menekan kuat-kuat dalam alam tidak sadar.
2. Neurastania
Penyakit ini ditandai oleh kelelahan yang terus menerus, wajah murung, nafsu makan berkurang, sulit tidur (insomania).
v Risau disebabkan oleh kekurangan kerja/kesibukan. Kelelahan dan kelemahan yang ekstrem disebabkan oleh kebanyakan kerja.
v Banyak menderita ketegangan emosional karena konflik-konflik internal, kesusahan, dan frustasi-frustasi.
v Disebabkan oleh perasaan interior, akibat dari kegagalan-kegagalan di masa lampau dan disusuli dengan tingkah laku yang agresif.
v Factor-faktor herediter diperkirakan juga menjadi sebabnya, akn tetapi tidak teramat penting artinya.
3. Anxiety
Terdapat kecemasan yang berkelanjutan bercampur perasaan takut.
Sebab-sebab anxiety
v Ketakuatn dan kecemasan yang terus menerus, disebabkan oleh kesusahan-kesusahan dan kegagalan yang bertubu-tubi
v Repressi terhadap maca-macam masalah emosional, akan tetapi tidak bisa berlangsung secara sempurna
v Kecenderungan harga diri yang terhalang.
v Dorongan-dorongan seksual tidak mendapat kepuasan yang terhambat, sehingga menimbulkn banyak konflik batin.
4. Hysteria
Penderita secara tidak sadar meniadakan fungsi salah satu anggota tubuhnya sekalipun secara organis tidak diketemukan adanya kelainan. Orang menjadi lumpuh, buta, tuli.
Sebab-sebab hysteria:
v Ada prediposisi pembawaan berupa system syaraf yang lemah.
v Tekanan-tekanan mental yang disebabkan oleh, kesusahan, kekecawaan, shocks, dan pengalaman-pengalamn taraumatis/luka jiwa.nya sugesti diri yag buruk dan melemahkan mental.
v Oleh kelemahan-kelemahan diri, individu berusaha menguasai keadaan, lalu mentiranisasi lingkungan dengan tingkah lakunya yang dibuat-buat.
v Kebiasaan hidup dan disiplin-disiplin yang keliru, sehingga mengakibatkan control pribadi yang lemah dan integrasi kepribadian yang miskin, sangat kekanak-kanakan.
v Sering atau selalu menggunakan escape mechanism dan defence mechanism, sehingga mengakibatkan malajustment, dan semakin banyak timbul kesulitan.
v Kondidi fisik yang buruk, misalnya sakit-sakitan, lemah, lelah, fungsi-fungsi organic yang lemah, gangguan pikiran, dan badaniah.
5. Hipokondria
Adalah kondisi kecemasan yang kronis, dimana pasien selalu merasakan ketakutan yang patologis terhadap terhadap kesehatan sendiri..individu yang bersangkutan merasa yakin betul bahwa dirinya mengidap suatu penyakit yang kronis. Setiap simpton kesakitan yang sekecil-kecilnya, dirasakannya sebagai suatu bencana hebat dan merupakan tragedy hidup yang dianggap bisa menyebabkan kematiannya. Semua itu disebabkan oleh banyaknya konflik-konflik intrapsikis yang sudah lama dan amat parah.
c. Psikopat
Psikopat adalah bentuk kekalutan mental ditandai dengan tidak adanya pengorganisasian dan pengintegrasian pribadi. Penderita memperlihatkan tingkah laku yang anti social, tidak memperdulikan norma yang ada dalam masyarakat. Gejala lain yang ditampilkan yang bersangkutan ialah egosentri, tidak mempunyai hati nurani. Dalam bentuk yang ekstrim penderita menjadi penipu ulung, pembunuh ulung.
Pada galibnya, orang-orang psikopat itu pada masa mudanya mendapatkan kasih sayang yang sangat minim sekali, bahkan hampir-hampir sama sekali tidak mendapatkan kasih sayang dari lingkungannya. Selama lima tahun pertama dia tidak pernah mendapatkan kemesraan-kemesraan kasih, sehingga untuk selama-lamanya individu yang bersangkutan kehilangan atau tidak mampu mengembngkan kemampuan untuk menerima dan memberikan kaih sayang dan simpati. Maka untuk selama-lamnya, sampai usia dewasa dan tua, dia kehilangan social, dan hilang pula rasa kemanusiaannnya. Perasaannya selalu tidak puas dan tdak senang. Jiwanya senantiasa diliputi rasa kebencian, dendam curiga, penolakan, pola dikejar-kejar dan dituduh.
Ciri-cirinya antara lain sebagai berikut:
v Tingkah laku dan relasi sosialnya selalu asosial, eksentrik (kegila-gilaan) dan kronis patologis. Sangat individualistic dan selalu menentang lingkungan cultural serta norma-norma etis, bertingkah semau sendiri.
v Sikapnya aneh-aneh, sering berbuat kasar, kurang ajar dan ganas, berbuat ganas terhadap siapapun tanpa suatu sebab. Sering sadistis.
v Suka ngeloyor atau keman-mana tanpa tujuan.
v Ada disorientasi tarhadap lingkungannya.
v Pribadinya tidak stabil. Respinnya selalu tidak adekuat. Dirinya tidak bisa dipercaya.
v Tidak pernah bersikap loyal terhadap orang lain, kelompok atau kode-kode etik tertentu.
v Emosinya tidak matang kadang tidak berperasaan
v Sering kali dicirikan dengan penyimpangan seksualitas dalam bentuk homoseksualitas, transvestitisme yaitu nafsu yang patologis untuk memakai pakaian dari jenis kelamin yang berlwanan dengannya, dan mendapatka kepuasan seks dengan pedofilia ( melakukan coitos/senggama dengan anak-anak kecil), fitishisme ( pemuasan seks dengan memanipulasikan satu benda sebagai pengganti kekasih), sadisme, serangan dan pemerkosaan seksual, pembunuhan dan perusakan jasad orang lain dengan motif-motif seks.
Ahli membagi jenis penyakit ini atas:
v Penderita yang memperlihatka tingkah laku yang simpatik tetapi tidak bertanggung jawab. Tingkah laku ini digunakan untuk menipu orang lain.
v Bersikap memusuhi, membandel, pendeknya sikap negativisme.
v Hipokondris, berbuat sakit-sakitan, tidak berdaya, hanya sekear untuk menarik perhatian. Dengan bersikap dmikian maka sekelilingnya telah dirugikan waktu.
v Bersikap anti social dimana penderita sering melakukan kejahatan seks, membunuh tanpa rasa satu kesalahan fatal.
Penderita kekalutan mental ini banyak terjadi di kalangan
Dikota-kot besar lebih banyak terdapat penderita mental disorder dari di desa-desa
Jumlah penderita kekalutan mental paling banyak terdapat di kalangan orang-orang dewasa atau usia tua.
Simpton psikotis banyak terdapat di kalangan anak remaja, puber dan adolesens, serta orng-orang pad usia klimakterium.
Dikalangan dinas militer
Orang-orang dengan status ekonomi rendh dan mata pencaharian sangat minim, namun mempunyai tuntutan dan ambisi materiil yang tinggi.
Di kalangan para gelandangan dan migran dari desa-desa ke kota-kota yang tidak bias mneyesuaikan diri terhadap tuntutan social yang baru.
Ibu-ibu rumah tangga lebih banyak yang mengalami psikosomatisme daripada pria.
Kadaan rumah tangga yang berantakan
Diperkirakan lebih kurang 40% dari orang-orang yang tidak beragama menderita kekalutan mental.
Juga orang-oran yang super-ekstrem dan sangat ortodoks serta fanatic terhadap doktrin-doktrin agama dan ide-ide politik, tanpa penggunaan nalar sehat dan pengendalian perasaan, banyak sekali yang menderita kekalutan mental.
Gangguan mental oleh factor-faktor social dan cultural yang eksternal sifatnya itu bisa dihindari, yaitu dengan jalan sebagai berikut
v Tidak banyak konflik-konflik batin yang serius, tidak banyak konflik dengan lingkungan
v Menegakkan disiplin-disiplin yang ketat.
v Berusaha berpikir dan bertindak wajar, tanpa penggunaan mekanisme pelarian diri dan mekanisme pertahanan diri yang negative
v Berani menghadapi kesulitan dengan nyata, dan mau memecahkan kesulitan-kesulitan dengan perbuatan konkret; tidak ada penghindaran diri dari kesulitan yang tengah dihadapi.
tentang-koe
Dia terlahir dari keluarga sederhana dan berasal dari pulau di ujung provinsi bagian tengah. Dia bukan orang yang ketika sosoknya hadir ditengah-tengah orang banyak semua orang akan menoleh karena indah sosoknya tapi bukan juga orang yang akan membuat yang lain membuang muka atau mencibir karena jasadnya. Semua yang ada pada dirinya berada di garis standar tapi dia mempunyai cita-cita yang menjadikan dia terus teguh digaris kesederhanaan. Sebenarnya sih mimpinya tidak terlalu tinggi dan muluk-muluk tapi bagi sebagian orang itu adalah mimpi yang imposible. What ever pendapat orang yang penting dia punya usaha dan doa, semuanya pasti bisa terjadi. Arai pernah mengatakan dalam buku Sang Pemimpi karya Andrea Hirata bahwa kita orang kecil harus terus punya mimpi, why? karena mimpi itulah yang akan terus memberi kita motivasi untuk terus memberikan yang terbaik buat orang-orang disekitar kita yang sangat kita cintai dan mencintai kita. Walaupun mungkin suatu saat mimpi itu tidak terwujud karena berbenturan dengan kehendak Allah, ketika itu terjadi maka hanya satu yang mesti dilakukan yaitu buatlah seribu mimpi lagi. Dia bukan orang yang mau dipandang oleh orang lain hanya dari fisiknya saja tapi juga dari isi kepala dan kreatifitasnya. Dia adalah seorang mahasiswi di ibu kota perovinsi. Dia hidup dengan edielisme menantang zaman yang makin hari makin amoral. Dan dia bernama Hijrayanti Sari.
Langganan:
Postingan (Atom)